– Ust. Rasyiddin Siregar, S.Pd.I (Asatidz PPI 112 Bogor)
Diskursus mengenai teori konspirasi merupakan isu yang senantiasa relevan dan menarik perhatian publik secara global. Di Indonesia, lonjakan minat khalayak umum terhadap isu ini salah satunya dipicu oleh terbitnya novel populer The Da Vinci Code karya Dan Brown.
Fenomena ini melahirkan gelombang publikasi yang berupaya mengupas lebih dalam isu-isu tentang perkumpulan dan organisasi rahasia, seperti Freemasonry, Illuminati, dan lain-lain, yang dianggap memiliki agenda besar untuk menguasai dunia (New World Order). Narasi semacam ini menarik perhatian besar, terutama di masyarakat yang sebelumnya berada di bawah kontrol informasi ketat.
Secara etimologi, konspirasi merujuk pada bentuk kerja sama tersembunyi yang cenderung bernuansa negatif. Teori konspirasi pada mulanya berfungsi sebagai alat untuk mengungkap benang merah atau fakta janggal dalam suatu kejadian, bertolak dari seperangkat fakta terbatas untuk membangun hipotesis dasar yang kemudian diuji secara berkelanjutan.
Dalam perkembangan di ruang publik, teori konspirasi seringkali bergeser dari kerangka ilmiah berbasis fakta menjadi spekulasi atau praduga yang tidak memiliki landasan data yang memadai.
Fenomena ini yang kemudian melahirkan istilah populer “Cocoklogi”—suatu bentuk kritik sosial terhadap praktik mencocok-cocokkan fakta yang tidak relevan ke dalam bingkai teori konspirasi tertentu. Jika dianalisis secara akademis, “Cocoklogi” merefleksikan kelemahan metodologis, di mana asumsi dijadikan konsepsi, dan praduga diangkat menjadi fakta tanpa verifikasi yang ketat. Pakar semiotika seperti Umberto Eco, melalui novelnya Foucault’s Pendulum (1988), telah lama mengkritisi bahaya menyikapi sekumpulan fakta terbatas dengan tergesa-gesa.
Dalam kerangka berpikir Islam, seorang Muslim wajib bersikap kritis dan berhati-hati (ikhthiyath) dalam mengelola dan menyikapi informasi.
Allah Subhanahu Wata’ala telah memberikan panduan tegas terkait hal ini: ketergesaan dalam mengambil kesimpulan yang didasarkan pada praduga semata (dzann) adalah sikap yang terlarang.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka (dzann), sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Kritik terhadap “Cocoklogi” dalam konteks Islam adalah kritik terhadap sikap mengabaikan perintah untuk tabayyun (klarifikasi/verifikasi) dan larangan berburuk sangka. Menghukumi suatu entitas hanya berdasarkan kemiripan simbol tanpa analisis historis dan ideologis yang mendalam dapat menimbulkan phobia dan kepanikan yang kontraproduktif.
Bagi seorang santri, tradisi keilmuan Islam menekankan pada sanad (rantai periwayatan ilmu) dan metodologi (manhaj) yang kuat. Dalam menyikapi isu konspirasi, seorang santri akan merujuk pada prinsip berikut:
-
Prioritas Ilmu vs. Praduga: Ajaran Islam dibangun di atas keyakinan (yaqin) dan dalil yang jelas, bukan sekadar persangkaan. Menyikapi urusan dunia dengan praduga tanpa tabayyun adalah penyimpangan dari manhaj keilmuan Islam.
-
Solusi vs. Obsesi: Adanya konspirasi adalah suatu keniscayaan. Namun, tugas Muslim dan santri adalah fokus pada solusi Islami yang mencakup penguatan ilmu, ekonomi, moral, dan persatuan umat, daripada terperangkap dalam obsesi teori konspirasi.
-
Kesadaran Jangka Panjang: Membangun peradaban memerlukan ketelitian dan kesabaran akademis, bukan reaktivitas emosional.
Sebagai upaya nyata dalam pembinaan sumber daya manusia yang kritis, berilmu, dan berakhlak mulia sesuai panduan Islam, hadir lembaga pendidikan seperti Pesantren Persatuan Islam (Persis) 112 Bogor.
Pesantren Persis 112 Bogor adalah lembaga pendidikan Islam di bawah naungan organisasi Persatuan Islam (Persis). Persis dikenal dengan tradisi ijtihad, tajdid (pemurnian ajaran), dan fokus pada pemahaman Islam yang murni berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan metodologi yang ketat.
Pesantren ini bertujuan mencetak generasi Muslim yang memiliki kemampuan akademis tinggi (termasuk daya analisis kritis) sekaligus memiliki pemahaman Islam yang mendalam dan salim (benar).
Kehadiran pesantren dengan kerangka berpikir Islami yang kokoh menjadi vital dalam membentengi umat dari sikap gagap informasi dan phobia yang berlebihan akibat “Cocoklogi,” serta melatih santri untuk berprinsip Ikhthiyath (kehati-hatian) dalam setiap perkara, termasuk isu-isu politik dan global.
Agenda besar konspirasi global memang ada, tetapi sikap terbaik adalah menghadapinya dengan kecerdasan akademis dan landasan syar’i yang kokoh, bukan dengan “Cocoklogi” yang melemahkan.


